Cerpen Kisah Lembah Hijau 1 Full

1 bulan yang lalu…
“Yogi, kamu harus menikah dengan primadona pilihan mama!”
“Aku tidak mau Ma, aku sudah punya inai!” Tolak Yogi.
“Ah pacar-pacarmu selama ini nggak ada yang jelas, berganti-ganti! papa sama mama pusing.” Sang mama geleng majikan melihat watak sang putra.
“Lalu mama papa ingin aku menikahi barangkali?” Tanya Yogi berang.
“Engkau anak almarhum sahabat miskin benar,” Papa Yogi timbrung angkat wicara.
“Lalu?” Yogi mulai berat ekor menimbangi.
“Papa berhutang budi pada almarhum teman papa itu, demi menyelamatkan kedang ia meninggal, padahal beliau mempunyai sendiri momongan perempuan yang masih mungil momen itu. Privat diri papa berjanji saat kalian besar nanti, kalian akan kunikahkan,” ucap sang papa yang waktu ini tergolek di ranjang rumah sakit.
“Terpangkal Yogi nggak kepingin, Pa!” Hardik Yogi. Mama Yogi pun menangis meluluk putranya yang menyorong perjodohan itu.
“Yogi! Selama ini, apapun permintaanmu papa turuti, mungkin umur miskin benar bukan akan lama lagi, papa tetapi minta satu, nikahilah Latifa. Kasian kini dia yatim piatu, ibunya baru sekadar meninggal 3 bulan yang habis. Latifa mungkin anak asuh desa tidak seperti teman-n partner wanitamu yang tak, tapi anak asuh itu baik Yogi. Papa berpengharapan kamu boleh bahagia bersamanya,” pembukaan rudin bersedih.


Malam setelah acara akad kontak, Yogi memboyong bertepatan Latifa ke rumahnya, sekitar 4 jam pengelanaan dari kondominium orang jompo Yogi. Pikir Yogi, sekiranya ia tetap di kondominium orangtuanya maka akan makin selit belit lakukan Yogi seandainya kedua orangtuanya menguati programa bulan madu mereka. Sejauh perjalanan Yogi tak sama sekali mengajak bicara Latifa. Bahkan Yogi merasa lewat sebal dengan Latifa. Sesekali Yogi menjuling gadis di sampingnya itu dengan pandangan sinis dan enggan.
‘Kampungan banget sih cara berpakaian nih cewek, hmm boleh membuat aku malu, namanya Latifa, udik banget, kampungan!’ Yogi tak nangkring mengumpat dalam hati. Latifa nan memakai rok jenjang denga pembesar gamis, serta surai dikuncir satu, sonder memakai hiasan apapun, membuat Yogi bukan suka. Yogi sesungguhnya pria nan baik namun karena kamu anak terakhir dan keluarganya terbiasa menuruti apapun permintaannya, menjadikannya sedikit cak beranja-anja.
“Kita sudah setakat, ini rumahku, Latifa.” Yogi sedikit ber basa-basi.
“Ifa, panggil saja Ifa,” ucap Latifa.
“Ya. Masuklah,” ajak Yogi. Mengawasi awalan Ifa yang lamban membuat Yogi gregetan, “Ayolah cepat sedikit, aku lain enak jika suka-suka tetangga yang melihat,” kata Yogi lagi. Ifa lagi berusaha cepat tapi karena tiga komoditas bawaannya cukup berat membuat langkahnya melambat. Ifa masuk ke kondominium dinas suaminya itu untuk purwa kalinya. Yogi tinggal di sebuah apartemen dinas di sebuah asrama tentara. Yogi yakni koteng tentara bertingkat Sertu. “Ini kamarmu Ifa. Aku mohon kamu tidak salah tafsir dengan akad nikah ini, dengan menyetujui keputusan orangtuaku bagi menikahimu bukan berarti aku setuju buat semangat denganmu,” ucap Yogi ketus.
“Iya aku memahami Mas.” Ifa mendesau, memafhumi posisinya. Kemudian masuk ke sebuah kamar berukuran katai di sebelah kamar Yogi, ia meletakkan barang-barangnya di kamar bermatra 3×3 itu.
“Kesannya aku mendapat tempat tinggal,” ucap Ifa senang. Terdengar Yogi terbit kamar jihat sedang menelpon seseorang. “Aku tahu ini perjodohan yang terpaksa. Aku bangun diri dengan situasi ini. Tak apa, aku harus bertahan hingga tiba waktunya.” Ifa menguatkan dirinya memulai sesuatu nan baru dalam hidupnya. Sebenarnya Ifa pun terpaksa kepingin menerima perjodohan dari orang tua Yogi, sepeninggalan ibunya, Ifa jadi tak punya kondominium tinggal, karena rumah tempat ia dulu lampau juga sebuah apartemen dinas. Detik ayah Ifa meninggal, sesungguhnya keluarganya pun luang akan di usir berusul rumah itu namun karena ampunan, maka Ifa dan ibunya kembali diperbolehkan sementara lewat di rumah itu. Masa ini sepeninggalan ibunya, Ifa bingung akan suntuk dimana lagi, kemudian orangtua Yogi sekali lagi datang membicarakan tentang ijab kabul, Ifa berpikir dalam-dalam takdirnya ia menerima pernikahan itu, ia akan dapat rumah adv amat dan ia dapat melanjutkan kuliahnya nan hanya lewat bilang bulan lagi sebelum ia meruap kuliah. Lagipula Ifa tahu bahwa Yogi sangat menentang pernikahan itu, Ifa merasa itu suatu kebetulan karena kalau ia tinggal bersama Yogi, Yogi yang tak menaksir keberadaannya lain mungkin menyentuhnya, sehingga kamu bisa lengang dulu di rumah Yogi itu sampai waktunya engkau pupus orasi dan akan menginjak kehidupan mandiri.


Tok. Tok. Tok.
Latifa mengetuk gapura kamar Yogi.
“Ya. Ada apa?” jawab Yogi dari dalam kamar.
“Siuman Mas, sudah lalu pagi. Mas Yogi nggak biro?” Tanya Ifa.
Yogi keluar berpokok kamarnya. “Anda tidak usah mencampuri urusanku, aku mulai kantor alias tidak, lain urusanmu,” introduksi Yogi dengan nada ketus. Bujang berkulit sawo itu lantas berlalu ke arah kamar mandi. Setelah Yogi keluar dari kamar mandi, beliau melirik heran di atas kenap bersantap sudah tersedia sarapan untuknya.
“Ifa, ia tak usah menyiagakan apa-apa, aku tak biasa makan pagi pagi.”
“Sarapan pagi bagus Mas sebelum memuali aktivitas pagi sebatas siang.” Ifa berusaha menyucikan, cuma besar perut, Yogi malah semakin menjadi murka.
“Kubilang tidak ya tak!” Bentak Yogi.
Ifa terdiam, sedikit mendesah kesal saja masih dalam garis ketegaran, kemudian masuk ke intern kamarnya. Beberapa ketika, Ifa keluar keluar dengan selembar jeluang dan sebuah pulpen.
“Aku ingin kita bicara sebentar Mas.” Congor Ifa sedikit menekan.
“Aku tak suka-suka waktu!” balas Yogi acuh.
“Aku tahu Mas Yogi tak menghendaki pernikahan ini dan kehadiranku, aku tahu itu semua.” Ifa menyerahkan lembaran daluang dan pulpen kepada Yogi, “ Ini…”
“Apa maksudnya ini?” Pertanyaan Yogi.
“Ini surat perjanjian pernikahan dan parak kita.” Pembukaan-kata Ifa semakin tegas, nada bicaranya lagi tak gentar. Yogi tampak mamang.
“Mas Yogi tak usah lopak-lapik, 6 rembulan lagi aku lulus dari kuliahku, saat itu aku bersedia Mas Yogi menyapih aku. Terserah apapun alasan perceraian itu, aku akan menyetujuinya.” Ifa valid lawan bicaranya.
“Kamu pikir dengan begitu masalah ini akan selesai? Lalu bagaimana dengan orangtuaku? Mereka terlampau berpretensi dengan pernikahan ini. Jika aku menceraikanmu sonder alasan yang jelas tentunya orangtuaku akan marah samudra padaku,” ujar Yogi.
Ifa menghela sabar, guratan bibirnya mengatub sesaat, “Baiklah, saat perpisahan itu, tuduhlah jika aku nan sudah berselingkuh, sehingga orangtua Mas Yogi pasti akan menyetujui perceraikan itu.”
Yogi pun kelihatan berpikir, bola matanya mengisyaratannya.
“Mas Yogi tak usah keruh. Aku tak akan meminta se-sen juga dari gajimu, aku tak akan mengurusi urusan pribadimu, aku semata-mata numpang hidup disini sampai momen itu berangkat, Mas Yogi tak teradat menganggap aku ampean. Mungkin, kalau Mas Yogi bersedia, anggaplah aku seorang… teman.” Ifa memasang senyum perkawanan di wajahnya.
“Baiklah aku cocok dengan perjanjian ini.” Yogi menandatangani lawai kertas yang sebelumnya sudah di tandatangani Ifa.
“Ya. Aku lewat berterima kasih padamu Mas. Bak sambutan atas kebaikan hatimu menerimaku di rumah ini, aku akan tegar mengerjakan pekerjaan rumah dan menyiapkan makan,” ucap Ifa sebelum anda mengambil kertas perjanjian itu dan ikut ke kamarnya.
Di privat kamar yang katai itu, yang hanya terdapat sebuah kasur dan lemari, Latifa bersandar pada tembok dan menangis tersentuh perasaan, batinnya meringis pilu. “Ayah… kenapa ayah pergi paling awal ini, sepanjang ini aku dan ibu arwah menderita…” ucapnya sambil menyetip air matanya. Terasa kosong vitalitas sonder kedua manusia tuanya, ia harus berjuang sendiri demi kesinambungan hidupnya. “Ibu… Ibu juga meninggalkanku, aku merasa seperti sesuatu yang enggak penting di sini, bukan terserah yang pelalah Ifa lagi. Ifa kangen ibu.” Latifa terisak duduk berpijak, semua terasa dingin dan membekukan keberadaannya. Tangisan Ifa bukan berlangsung lama, dia menghela nafas panjang untuk membuang semua asanya dan menyetip air matanya. “Aku tak bisa begini. Aku harus kuat, harus bisa menjadi pribadi yang baru. Aku harus berusaha menjadi seorang n partner yang baik buat Mas Yogi.” Ifa memotivasi dirinya sendiri, dengan menangkap tali pertemanan yang baik, setidaknya bisa memudahkannya melintasi hari yang luar di rumah Yogi.
Seputar jam setengah tiga, Yogi pulang dinas. Karena lokasi kantornya lain jauh letaknya berasal mes tinggalnya, Yogi pun memintal melanglang suku bersama Dani, jodoh karibnya, justru mereka sama-sama suatu litting.
“Gi, katanya kemarin kamu kontak, kok nggak ngundang-ngundang?” Tanya Dani.
“Ah, itu namun acara tanggungan belaka kok Dan, cuma akad nikah.” Yogi nampak culas membahas.
“Lalu mana istrimu waktu ini?” Tanya Dani.
“Ya waktu ini tinggal sama aku,” jawab Yogi.
“Sepertinya kamu tak senang dengan pernikahanmu itu, Gi?” Dani boleh membaca dari sikap dan cara wicara sahabatnya itu.
“Iyalah Dan, kan kamu tahu seorang, aku masih pacaran dengan Renita. Lagipula aku dan Latifa, hmm… Ifa kan namun dijodohkan, tak lama juga aku akan berpisah dengannya,” ucap Yogi enteng.
“Kok gitu Gi? gampang banget sih kamu main ceraikan anak sosok, emang kenapa kamu bukan menyukai istrimu itu?” Dani menatap heran sahabatnya.
“Ya, entahlah aku tak doyan, gayanya jadul banget, nggak cocok ama seleraku.”
Dani menepuk bahu Yogi, ”Ah, semprul engkau Gi, padahal Renita menurutku standar-barometer aja. Cuman karena beliau memiliki rambut pangkat literal itupun hasil olahan salon, ya emang sih Renita itu modis.”
“Sembarangan aja anda biji cewekku, Dan. Takdirnya aku melepaskan Renita sekarang, gengsi lah. Terlampau aja aku hampir beradu buku tangan selaras sang Haris gara-gara memperebutkan Renita.”
“Hahaa, kamu kayak anak asuh ABG aja Gi. Inget usia dong!” ledek Dani.
“Oh, ya, Dan, tapi ini rahasia ya… ” Yogi memelankan nada suaranya.
“Apaan?” Dani menginjak penasaran.
“Hmm, sebenarnya… pernikahanku namun 6 wulan saja,” bisik Yogi.
“Maksudnya gimana Gi?” Dani setengah melotot mencerna prolog-perkenalan awal Yogi.
“Aku dan Ifa sudah sepakat dalam sebuah perjanjian pernikahan hitam diatas putih, setelah 6 bulan pernikahan kami memutuskan akan bercerai,” kisik Yogi lagi.
“Gila kamu Gi, nikah kok dibuat permainan.” Dani menggeleng melihat tingkah Yogi. Bukan berapa lama Yogi dan Dani pula setakat di depan rumah Yogi. “Gi tuh kok ada amoi di depan rumah dia? cewek yang mana pula tuh. Gila, bau kencur boleh jadi ini liat perawan mulus banget, rupawan banget.” Dani berdecak kagum. Yogi pun heran, Yogi dan Dani terusik rasa penasarannya untuk melihat lebih dekat ke sebelah nona nan merembah di depan kondominium Yogi itu. Cewek beruban sebahu, pakai rok jeans sumir, kemeja fit body dan Wedges High Heels. Dayang yang menjadi perhatian itu membalikkan badan dan membuat Yogi serta Dani terkejut.
“Eh, Mas Yogi sudah pulang,” sebut perempuan itu yang bukan lain adalah Latifa.
“Ifa?” Yogi heran mengintai sosok Ifa yang berbeda.
“Gi, itu istrimu? Sinting cantik banget, cak kenapa kamu boleh sejumlah gaya kamu jadul? modis gini kok di beberapa jadul, ni sih artis asia. Aku heran sebanding seleramu Gi,” bisik Dani.
“Iya Mas, ini Ifa mangut cak hendak nitipin kunci kondominium setimpal siapa, soalnya Ifa mau menyingkir habis Mas. Cak semau syarah praktek sore.” Ifa mengambil resep dari saku rok jeans pendeknya. “Kebetulan Mas Yogi telah pulang, ini kunci rumahnya ya Mas.” Ifa menyerahkan kunci apartemen pada Yogi.
“Hai Ifa, salam kenal ya. Aku Dani teman satu litting Yogi. Ia istrinya Yogi ya?” Dani melampiaskan persuasi basa-basinya.
“Iya Mas Dani, salam kenal ya. Latifa. Oh, ya, Ifa adeknya Mas Yogi kok,” canda Ifa sembari mesem. Dani pun tertawa mendengar candaan pemudi berhidung mancung di hadapannya.
“Ok deh, Ifa berangkat khotbah silam ya Mas Dani, Mas Yogi..bye-bye…” Ifa berlalu serempak melambaikan tangan dan tersenyum riang. Yogi lain sempat mengomong barang apa-apa, bisa di beberapa dia tertegun mematamatai arah lain dari amputan yang di nikahinya secara terpaksa.
Latifa menghentikan langkahnya, dia menyembat, “Oh, ya, Mas Yogi, Ifa pulang jam setengah 7 lilin lebah ya, lauknya di panasin jangan sampai basi lho,” teriak Latifa yang sudah berjalan memadai jauh. Ifa berusaha mengungkapkan lembaran perkawanan dengan Yogi, sepatutnya selama 6 bulan kedepan mereka bukan silih ada tanggung karena hidup se-atap. Itu sebabnya Latifa berusaha untuk lebih rapat persaudaraan dengan Yogi.
“Gi, kalau kamu sudah absah berjarak beritahu aku ya, hahahaa,” kata Dani sembari berjalan pergi cak bagi pulang ke rumahnya.
“Tuma Kupret dia Dan, hahaa,” balas Yogi tertawa.

Baca :   Selang Freon Ac Membeku

Tepat pukul 18.30 Latifa tiba di apartemen.
“Assalamu Alaikum,” teriak Latifa, kemudian masuk ke dalam apartemen.
“Waalaikumsalam,” jawab Yogi dan Dani secara bersamaan.
“Lilin batik Dek Ifa,” Sapa Dani bergaduk cute.
“Dek???” Yogi membeo perkataan Dani, Yogi terkekeh karena Dani menjuluki Ifa ‘Dek Ifa’. “Ah kamu Dan, snobis akrab kamu!” Ejek Yogi.
“Lho Mas Dani cak semau disini rupanya,” sebut Latifa ramah.
“Iya Dek Ifa, kebetulan TV di rumah rusak, jadi cak hendak sertaan nonton TV disini, hehee.”
Yogi menyenggol Dani, “Ah, alasan aja beliau, Dan,” ejek Yogi juga.
Ifa tertawa, “Mas Dani ini orangnya menggelikan.”
Dani mesammesem sambil menggaruk-garuk rambut di kepalanya.
“Yaudah Mas Dani, dilanjut deh nonton TV-nya, Ifa mau ke kamar dulu,” pamit Ifa.
“Oh, ya, Mas Yogi mutakadim bersantap?” Latifa menghentikan langkahnya sesaat. Ia menganjal.
“Iya mutakadim,” jawab Yogi malu-malu, Ifa tersenyum lalu ikut kamarnya.
Tak berapa lama Ifa lagi keluar dari kamarnya menuju kamar bersiram, sekitar 15 menit Ifa keluar dari kamarnya dengan bulu yang basah lalu timbrung juga ke kamarnya. Kemudian Ifa kembali keluar dari kamarnya dengan memakai celana jeans sumir dan t-shirt berlengan pendek sambil membawa Laptop. Engkau menaruh Laptopnya di atas meja bersantap dan duduk spontan memainkan Laptop itu. Ifa berdiri berpunca tempat duduknya dan masuk kembali ke dalam kamar membawa sebuah buku.
Dani melecun lengan Yogi, “Gi, ia nggak gagap lihat cewek cantik mondar-mandir di rumahmu?” Kisik Dani.
“Ah, kamu berisik, yuk maen PS aja Dan,” Yogi mengalihkan pembicaraan.
“Dasar sira Gi. Oh, ya, Gi, kok tadi siang kamu bilang Ifa dandanannya jadul? Kamu nggak menengah nyeri mata kan Gi?” Bisik Dani lagi.
“Kemarin itu emang dandanannya jadul banget kok Dan, ala bani adam desa. Pakai pakaian kain janjang, atasannya juga. Aku juga nggak tahu.” Yogi mengambil stik PS sambil menekan tombol select.
“Mungkin pas semalam itu Ifa hanya ingin berpenampilan moralistis di depan orangtuamu sahaja kali Gi.”
Yogi menyanggang pundak. “Tau ah gelap,” timpal Yogi cuek.
Secara seketika, Ifa berpangkal arah belakang menepuk pundak Yogi dan Dani. “Hayoooo lagi ngomongin apa nih kasak.” Suara Ifa mengejutkan keduanya, Yogi dan Dani sekalian terhentak.
“Astagfirullah. Dek Ifa bikin terkejut belaka,” kata Dani sambil menyapu dada.
Latifa terkekeh, “Juga ngomongin barang apa sih Mas, kayaknya mendalam banget.”
“Nggak ada apa-segala apa cak kenapa dek,” sebut Dani malu.
Alunan nada dering ponsel Yogi berbunyi. Latifa mengerling, “Mas Yogi, tuh HP-nya bunyi, pasti terbit yayang nih, hehee,” ledek Ifa.
“Ah, hmm, ya Fa,” jawab Yogi normatif, sebelum ia berorientasi kamarnya bikin menyanggang telepon nan memang dari Renita, kekasih Yogi.
“Dek Ifa sudah tahu Yogi punya pacar?” Tanya Dani resah.
“Ooo, iyalah Mas, Ifa udah sempat kok.” Latifa tersenyum datar.
“Lalu… nggak ada persaan apa-apa gitu?” periksa Dani lagi.
“Pikiran segala apa Mas? Ifa sama Mas Yogi itu perasaannya sebagai halnya saudara aja,” ucap Ifa sembari tersenyum.
“Kok aneh, aku kaprikornus bingung.” Dani mengerutkan dahinya.
Latifa tersenyum lebar, “Mas Dani nggak usah pusing. Ini, Mas Dani lagi main PS centung? ayo tanding padanan Ifa, maen bola ya.”
“Lho Dek Ifa boleh maen PS? ayo kali takut. Mas Dani Juventus ya,” ujar Dani bersemangat, kemudian menjatah stik PS satunya ke Ifa.
“Ifa pastinya… Barca!!” Teriak Ifa gemar. Mereka berdua pun asik tanding PS.
Yogi meluluk terbit pesong pintu kamarnya, Ifa dan Dani tertawa-gelak sambil maen PS. Yogi kaprikornus cemas dengan kepribadian Ifa. Seperti segala apa ia sebenarnya Ifa, pikir Yogi.
Sekeliling jam 9 malam Dani baru pulang bermula apartemen Yogi. Ifa meneruskan memainkan Laptopnya. Tentatif Yogi madya menonton TV sambil sekali boleh jadi SMS-an dengan Renita. Dan sesekali juga Yogi mencerling Ifa yang serius menatap jib laptopnya.
“Ternyata Ifa anak adam nan baik, apakah kemarin aku kelewatan,” pikir Yogi. Yogi berjalan ke sisi meja makan dan duduk di depan Ifa.
“Sibuk barang apa Fa?” Tanya Yogi.
“Oh, ini Mas. Ifa sibuk catetin order,” jawab Ifa sambil tetap fokus pada cucur monitor laptopnya.
“Order?”
Ifa mengangguk, “Iya Mas, Ifa dah lama marketing tas branded dan sepatu-sepatu korea, tapi Ifa pasarin online. Lumayan untuk nambah-nambah tip pidato Mas,” kata Ifa seraya tersenyum. Di tahun ini fashion korea masih silam sukar, itulah sebabnya dagang Ifa sukses dipasarkan.
“Oh, gitu. Selama ini kamu kuliah berasal hasil komersial online itu ya?”
“Salah satunya, sebagian karena bea siswa. Tapi sekiranya mengandalkan itu saja tak cukup. Kalau pas weekend atau liburan semester Ifa kerja sampingan.”
“Hmm. Oh, iya, Ifa, aku minta pemaafan ya atas kejadian kemarin, mungkin aku sudah kebangetan.” Yogi tersenyum.
“Ah, nggak segala-apa Mas. Take easy aja kalau sama Ifa.” Ifa membalas hangat senyuman Yogi.
Yogi tertunduk sesaat lalu memandang Ifa dan berkata, “Hmm… Ifa, kita bisa mencoba beteman.” Ifa tersenyum lebar, senang karena Yogi sudah boleh menerima keberadaannya bagaikan kutub.


Pagi hari Yogi terbangun, anda menjuling jam weker di bidang datar sebelah kancah tidurnya. Anda kemudian sadar dan keluar kamar. Apartemen sepi. Yogi melangkah ke kamar mandi. Matanya terarah pada selembar kertas yang tertempel di pintu lemari pendingin.
“Mas Yogi. Ifa ada kuliah pagi, makan pagi sudah Ifa siapkan di kenap bersantap, thank’s,” tulis Ifa di secarik daluang berwarna kuning.
Yogi melihat sepiring nasi rendang telur diatas kenap dan segelas susu coklat. Ia sedikit terkejut, “Mengapa kebetulan banget ya, dia tahu aku suka susu coklat.” Yogi tersenyum heran terlampau melangkah ikut ke kamar bersiram.


Sudah 3 jam Ifa menunggu di depan gerbang, teras depan flat pun masih gelap. Ifa duduk dan berpedoman di depan pintu rumah yang terkunci itu. Karena Ifa lain tahu nomer HP Yogi, sira pun pening harus menghubungi siapa, Ifa pasrah saja menunggu di depan bab.
“Nasib orang menumpang,” ujar Ifa sedih. Nyamuk mulai berlalu alang-alang di teras. Suara minor otomobil Yogi juga terdengar, Yogi lekas keluar berusul mobilnya.
“Belas kasihan, anda sudah menunggu dari tadi ya?” Yogi tergopoh-gopoh membuka kunci portal.
“Lumayan Mas,” balas Ifa, ia mendesah kesal.
“Iya tadinya aku mau memangkalkan kunci ini lampau tapi karena terburu-buru aku jadi tengung-tenging, soalnya tadi Renita telepon dan meminang aku menjemputnya,” ujar Yogi.
Tanpa menanggapi perkataan Yogi, Ifa lagi sedarun ikut apartemen dan mendekati kamarnya. Ifa hantar diri di kasur minus ranjang itu, lalu duduk dan mengkhususkan sepatu high heels spesies platform itu.
“Aku sedikit kesal karena terlalu lama menunggu, tapi yasudahlah. Aku mau tidur selincam menghilangkan amarahku.”
Cukup lama Ifa tertidur, ia tercegak tepat jam 12 malam. Ifa bangun terlampau duduk di sisi tempat tidurnya. “Astaga… sudah jam segini, aku lalai masih ada tugas lakukan praktek lusa.” Ifa bergegas pulang ingatan. Selepas mengambil bilang trik, sira kemudian melangkah cenderung ruang paruh. Ifa duduk di depan TV sonder menyalakan TV tersebut karena merayang Yogi tercacak kalau mendengar kebisingan. Ifa membaca beberapa gerendel kuliahnya, sesekali sira menyadari.
“Kok lapar ya, hmm, enak nih kalau bikin mie mematangkan,” kata Ifa. Ifa memutuskan memuaskan perutnya sebelum kembali melanjutkan berbuat tugas prakteknya, beliau melangkah ke penyalai dan mulai memasak. Saking asiknya dia memasak, Ifa tak siuman jika Yogi bakir di belakangnya. “Ifa…” Panggil Yogi.
“Aaaaaaa, hantuuuu,” teriak Ifa kaget.Yogi kemudian tertawa. “Ini aku,” pengenalan Yogi.
“Ya ampun Mas Yogi sejak pada saat disini?” alas kata Ifa lega.
“Barusan kok, kamu medium apa?” Yogi melongokkan kepalanya, mencerling sepanci katai di atas tungku.
“Ifa lapar Mas, ini kerjakan mie godok, Mas Yogi mau?” Tawar Ifa.
“Boleh deh,” balas Yogi. Ifa pun menyiapkan dua mangkok mie mendidik lalu membawanya ke meja makan. Ifa dan Yogi menyantap mie mengolah itu, bagi pertama barangkali mereka berada di satu kenap bersantap secara bersama.
“Enak juga.” Yogi melahap mie buatan Ifa. Ifa hanya tersenyum.
“Oh, ya, Ifa, aku minta maaf ya tadi. Hmm, besok aku gandakan ki akal rumah,meski kita bawa per saja.”

Baca :   Cara Tanam Bunga Kenanga

Pagi itu Ifa mulai kuliah setelah Yogi berangkat jawatan. Ifa mengunci gapura kondominium lalu menyisipkan kunci kondominium itu di bawah keset yang bertuliskan alas kata WELCOME, karena Yogi siang nanti akan memperbanyak kunci. Ifa melanglang melangkah keluar flat. Ifa bukan pangling memanggil beberapa ibu-ibu yang ada di sekitar situ. Lalu bepergian ke arah jalan raya melewati lapangan.
Ifa mengamati kerapian pakaiannya, pagi itu Ifa tampak elegan dengan baju semi kemeja terusan hitam sampai di atas dengkul dengan lawai pinggang kulit dan sepatu high heels acuan gladiator. Sebenarnya Ifa bukan turunan yang abur dan teristiadat fashionable tapi karena ia sedarun promosikan dagangannya yaitu sepatu dan pakaian korea makara ia menunggangi seorang barang sample yang akan dijualnya langsung sebagai promosi, karena konsumen Ifa sebagian osean merupakan teman-dagi kampusnya sendiri. Rambut Ifa kini pun di tata ala wanita korea bagi bertambah menopang penampilannya.


Pagi itu lapangan ramai, serumpun barisan yang sedang berbuat olahraga rutin buyar pecah suara instruksi si pelatih. Ada yang menarik perhatian mereka pagi itu.
“Suka-suka apa sih rame-rame? kok memandangi jalan semua?” Soal Yogi pada Dani. Dani kembali melihat ke sisi perkembangan.
“Oh itu Gi, mereka puas ngeliatin cewek lewat,” Dani kercing untuk dapat melihat lebih jelas segala apa yang menjadi sasaran pikiran teman-temannya.
“Biasa para bujangan lihat yang mulus dikit udah ngiler,” Yogi terkekeh.
“Lho Gi, itu morong Dek Ifa.” Mengacungkan tangan Dani puas perempuan nan madya jadi trik manah teman-temannya itu. Yogi risikonya menengok ke arah tunjukan Dani, dan ternyata bersusila dia Ifa.
“Dek Ifa!!” Teriak Dani sekuat tenaga sebatas tenggorokannya hampir cengkar. Dani melambaikan tangan. Ifa pun menoleh dan tersenyum mengimbangi lambaian tangan Dani.
“Berangkat kuliah ya Dek?” Teriak Dani lagi.
“Iya Mas..Bye…” Ifa menimbangi teriakan Dani sambil melambaikan tangan dan berpulang.
“Dani anda kenal cewek tadi?” Tanya Rudi.
“Kamu Kenal Dan? tumben kamu kenal cewek cantik, hahahaaa,” Ejek Edo bergurau.
“Semprul kamu Do!” Dani merakut Edo pelan.
“Ah, jangan murka dong Dani, aku mau dong di kenalin ama cewek tadi,” Edo merajuk.
“Bukan-enggak, bukan papan bawah kalian,” tutur Dani lalu pergi menjauhi kumpulan ngiler itu. Yogi sedari tadi tetapi terdiam dan menatap keberangkatan Ifa. Ia menelisik apa nan menjadi sesuatu di intern bathinnya. Mencari jawaban kehadiran Ifa.


Lilin batik menjelang meninggalkan matahari yang sudah lalu terbenam. Ifa dan Yogi makan malam mengisi alat pencernaan mereka yang sebenarnya tak serupa itu lapar, Dani pun datang bertamu.
“Timbrung Mas Dani,” teriak Ifa.
“Eh, lagi pada makan ya?” mata Dani berkililing diatas kenap makan.
“Sini turut makan Mas, Ifa ambilkan piring ya?” Ifa beranjak.
“Boleh Dek Ifa, kebetulan pendiangan di rumah lagi kemungkus jadi nggak bisa masak dan belum makan, hehee” kata Dani kegirangan.
“Kamu Dan, kamarin TV rusak, sekarang kompor busuk, besok spontan bekas tidurmu rusak biar bisa tidur disini kan?” cibir Yogi.
“Bisa Gi idemu, akan datang aku tidur disini ya, diruang tamu juga dapat, hehee,” Dani cengar-cengir.
“Ah tidak-tidak, dia ini alasan aja. Ada maunya,” tolak Yogi.
“Hehehe,” gelak Dani.
“Telah-sudah, yuk makan dulu Mas, ini piringnya,” Ifa menyampaikan piring ke Dani. Mereka bertiga juga makan bersama.
“Wah enak ya masakannya Dek Ifa,” kata Dani serempak mencoket beberapa ikan hingga piringnya mumbung.
“Dan, kamu kira-duga dong, masa semua di embat juga!” Yogi mendelik.
“Hehehe, iya maap-maap.” Dani memasang tampang melas, Ifa pun tersenyum mungil.
Sehabis makan lilin batik, Ifa membersihkan meja dan piring lalu masuk ke dalam kamarnya. Sementara Yogi dan Dani medium ngobrol di depan TV.
“Napa Gi? kayaknya wajah ia suntuk banget.” Dani mengaram Yogi yang sibuk SMS-an dan mencoba menerka-nerka terbit paras Yogi.
“Ini Renita, tiap hari kerjanya ngambek mulu, Dan. Dikit-dikit ngambek, tadi aja dia minta jemput tapi aku nggak boleh, eh dia marah,” keluh Yogi.
“Ah, Renita lagi, Renita pula, illfeel aku liat kuntum macam gitu, ngambekan, nyenengin enggak, ngeselin iya. Emangnya cowok itu supir antar jemput segala!” Ujar Dani sinis.
“Tau ah, oh, ya, Dan kamu nanti siang turut aku ya ke kampusnya Renita,” pinta Yogi.
“Ngapain? males ah!” tolak Dani enggak berselera.
“Yah, please dong Dan. Temen Renita si Niar tuh tentara holic, beliau harap Renita nyomblangin tandingan aku ama si Niar, temen Renita itu,” kata Yogi.
“Ogah ah, cewek jaman sekarang ni tahu aja ya tentara kepingin dapet remunerasi, ngejar-ngejar mulu!” Dani melengos.
“Ayolah Dan, tolongin aku, kamu nggak nanggapin sang Niar nggak apa-apa deh, setidaknya Renita sempat seandainya aku udah terserah persuasi ngajakin kamu,” bujuk Yogi lagi.
Keesokan harinya…
“Gi, ni kampus cak kenapa rame banget ya?” Dani celingak-celinguk di pelataran kampus sebuah Universitar Negri ternama.
“Iyalah Dan, namanya juga kampus, dulu aku kepengen kuliah tapi papaku suruh aku ikut tentara, huh!” Yogi teringat dan menjadi kesal.
“Ngomong-ngomong kamu janjian sama Renita dimana?” Soal Dani, kakinya terasa pegal lama kelamaan berdiri.
“Tuh di Cafe kampus, sebelah sana,” angkat tangan Yogi. Mereka berdua pun berjalan mendatangi Cafe bernuansa biru muda itu. Koteng perempuan nan madya duduk disalah suatu meja melambaikan tangan ke arah Yogi. “Nah itu sang Renita, Gi.” Dani merajut eksistensi kekasih Yogi. Yogi dan Dani pun melangkah ke kenap gelanggang Renita.
“Kok jam segini baru nyampe? lelet amat sih,” bentak Renita ke Yogi, wajahnya bersengut.
“Iya tadi mogok dijalan,” Yogi sehelai kesal, ia mentah saja sampai dan sedarun mendapat cacian.
“Oh, ya, ini Niar.” Renita mengenalkan temannya plong Yogi dan Dani.
“Yogi.”
“Dani.”
Yogi dan Dani pun duduk. Mereka berbincang-bincang ringan. Tampak Niar menurunkan hati lega Dani, tapi Dani tetapi menanggapinya biasa. Niar enggak hentinya bercerita bahwa mamanda-nya, teteh-nya, sepupu-nya juga seorang laskar, Niar sangat membanggakan diri hingga membuat Dani mulai jenuh duduk berlama-lama di singgasana itu.
“Ssst, Ren! Tuh para mahasiswi kedokteran datang,” kisik Niar ke Renita.
Renita menoleh dan mencermati beberapa mahasiswi kedokteran nan selalu menjadi buah cakap di kampus mereka. “Oh itu ya yang kamu ceritakan kemarin,” kisik Renita.
“Terserah barang apa memangnya dengan mahasiswi kedokteran Ren?” Tanya Dani penasaran.
“Oh, itu Lho Mas, ada 4 sosok mahasiswi kedokteran yang popular di kampus ini, tak sedikit mahasiswi tidak yang ngikutin style mereka,” kata Renita.
“Apalagi yang bernama Latifa, dia paling kecil oke dan keren style-nya dan menjadi buah bibir di kampus, body-nya bagus lagi, hmm… buat keki aja,” kata Niar kagum.
“Latifa??” tempik Yogi tersentak.
“Iya, namanya Latifa,” tutur Niar menyungguhkan.
“Yang mana sih?” Cak bertanya Dani.
“Itu lho, yang di meja pojok sana,” tunjuk Niar nyuruk. “Itu kan itu terserah 4 orang cewek tuh, terimalah nan namanya Latifa itu lho,” Niar menunjuk nona berpakaian recup kemeja terusan bercelup hitam dipadu dengan jas mantri berwarna kalis.
“Lho itu kan D…” Tak luang Dani meneruskan introduksi-katanya, Yogi sudah menginjak suku Dani, menyemboyankan jangan berkata apapun.
“Mereka itu beneran mahasiswi kedokteran?” Tanya Yogi akrab lain percaya.
“Iya Mas, masa Niar bohong. Lihat aja mereka semua pakai jas putih ala tabib-dokter gitu deh. Setahu Niar, mereka sekarang madya koas, denger-denger intern beberapa rembulan ke depan, mereka telah akan di kualat dokter.”
Yogi dan Dani juga melirik ke jihat Ifa yang menengah duduk bersama antiwirawan-temannya. Baik Yogi atau Dani terkejut karena selama ini ia tetapi sempat bahwa Ifa kuliah tapi tak pernah menanyakan ia mengambil fakultas apa. Yogi menelan ludah, merasakan nafasnya yang masih tersingahak.
“Sebenarnya Latifa itu sebaya kita usianya lho Ren,” ucap Niar dengan suara minor pelan.
“Oh, ya, tapi cak kenapa dia sudah koas ya, sebentar lagi lulus makara dokter.”
“Iyalah, kan Latifa dapat bea siswa karena IPK-nya jenjang.” Niar lagi memandang dara yang sedang kamu telaah bersama Renita.
Yogi mencerling ke arah Ifa pula, ia tak beranggapan, Ifa yang awalnya sira vonis sebagai wanita kampungan ternyata sehebat itu.

Baca :   Rumah Bekas Di Cherry Field Buah Batu Bandung

“Mas Yogi sudah pulang?” Ifa menanyai Yogi nan bau kencur namun masuk ke dalam flat sore itu.
“Kamu pun sudah ada di rumah Fa?” Yogi balas menanya.
“Mutakadim bermula tadi kok Mas, oh, ya, tadi aku tatap Mas Yogi di kampus.”
Yogi sontak terperangah, “Kamu lihat aku Fa?”
“Iya Mas, tapi izin, Ifa nggak teguran, takutnya ganggu,” perkenalan awal Ifa tersenyum. “Oh, ya, itu pacar Mas Yogi ya? Cantik Mas.” Ifa memasang senyum lebar di wajahnya.
“Hmm, iya,” jawab Yogi singkat. “Ifa, kamu dokter ya?”
“Masih koas kok Mas.”
“Kenapa tak pernah kisah?” Tanya Yogi lagi.
“Memangnya Mas Yogi pernah soal?” Ifa melirik beberapa detik. Yogi tersingahak. Ia mengingat-ingat takdirnya ia memang tak jalinan ingin tahu tentang Ifa. Ifa mengintai ekspresi Yogi yang berubah, Ifa pun tak tega. “Ifa hanya bercanda Mas,” Ifa tersenyum kerjakan melegakan hati Yogi. “Jangan dianggap khusyuk ya.”
Yogi memaksakan senyumnya, ia masih tak sedap lever pada Ifa. “Maaf ya Ifa.” Yogi merasa tulang-benak penopang tubuhnya sedikit gemetar dan lemas dan merasa mesti untuk beristirahat, paling tak. “Aku kepingin ke kamar dulu ya,” ujar Yogi akhirnya.
“Mas Yogi nggak enak jasmani?” Tanya Ifa rusuh.
“Nggak sempat Fa, majikan rasanya hilang akal dan sukar,” tutur Yogi seraya melangkah ke kamar dan hampir mengendap. Ifa dengan sigap membantu menopang tubuh Yogi.
“Ifa bantu ke kamar ya Mas,” ujar Ifa prihatin, adv amat membantu Yogi berjalan. Ifa membantu Yogi berbaring, lalu menyentuh dahi Yogi. “Duh, mengapa seksi banget ya, selincam ya Mas.” kata Ifa dulu bepergian ke kamarnya mengejar remedi penurun erotis, tapi sayangnya tak ketemu. Ifa mengambil seteko munjung air putih dan gelas kemudian ia dukung ke kamar Yogi.
“Mas Yogi harus banyak minum air putih ya, hmm, persediaan perunding Ifa kebetulan lalu. Ifa beli dulu di apotik ya Mas, hmm, anu, Ifa boleh pinjam kunci mobilnya,” ucap Ifa ragu.
“Kamu bisa nyetir otomobil Fa?” tanya Yogi lemah.
“Iya Mas, dapat.”
“Itu, ambil saja di laci itu.” Ifa sekali lagi membuka laci dan mengambil anak kunci mobil.
“Oh, ya, Mas Yogi sebaiknya silih rok suntuk. Pakai pakaian yang nyaman, seharusnya yang menyerap keringat dan bahannya lain berlebih baplang.” Ifa menjatah saran.
“Iya Fa, terima rahmat.”
Sebelum serius melangkah menyingkir, Ifa berpikir dalam-dalam sejenak. “Hmm, karuan Mas Yogi kesusahan untuk remang menjeput pakaian. Biar Ifa saja yang siapkan gaun Mas Yogi. Ifa permisi beber bufet-nya Mas Yogi ya,” kata Ifa, kemudian mengungkapkan lemari Yogi dan memilihkan busana yang menurutnya nyaman di pakai Yogi. Busana itu diletakkan di sisi tempat tidur.
Setelah Ifa menginjak ke apotik dengan mobil Yogi, pemuda terdiam mematamatai pakaian nan di siapkan Ifa. Ifa sungguh berbeda, kebaikan hatinyalah yang membuat Yogi terkesan. Sepanjang ini Ifa kehidupan mandiri, farik sekali dengan Renita, pikir Yogi.


Sekitar jam 2 malam Yogi terbangun dari tidurnya. Ia merasa badannya telah enakan sehabis Ifa memberinya pelamar penurun panas dan antibiotik. Yogi berusaha duduk, ingin mengambil gelas yang ampuh air kalis. Namun Yogi terperangah meluluk Ifa tidur dilantai dengan posisi duduk, tubuhnya berpatokan ke tembok yang di sangga dengan bantal. Ifa tertidur berbarengan memegang beberapa buku kuliahnya.
“Ifa, bangunlah Fa,” panggil Yogi. Ifa terbangun, ia menusap-usap matanya, selepas menguasai kesadarannya dari mimpi tidurnya, Ifa menoleh ke sisi Yogi dan tangannya spontan hingga ke dahi Yogi.
“Mas Yogi sudah baikan?” Tanya Ifa kliyengan.
“Iya, aku sudah tak apa-segala apa Fa, sira tidur sahaja di kamarmu. Aku sungguh tidak apa-apa, sira tubin ada praktek pagi morong? hendaknya engkau istirahat doang, Fa.”
“Syukurlah jikalau Mas Yogi sudah baikan. Okey, Ifa menginjak besok praktek di RST, Mas, bekas Ifa praktek lokasinya tak jauh berasal sini.”
“Iya, istirahat saja Fa. Kemudian hari kamu malah yang remai.”
“Iya Mas.” Ifa memungut bilang bukunya lalu melangkah keluar kamar Yogi. Tak berapa lama Ifa masuk lagi mengirimkan segelas susu coklat, dan mewujudkan Yogi keheranan. “Lho kenapa Fa?” tanya Yogi yang baru belaka akan kembali merebahkan tubuhnya.
“Ifa nggak tega aja. Ini Ifa tinggalkan susu coklat sama roti ya Mas, siapatahu Mas Yogi lapar.” Ifa meletakkan segelas tetek coklat dan roti itu sebelum lagi ke internal kamarnya, doang momen Ifa sudah lalu berada di estuari pintu, engkau berganti, “Jikalau Mas Yogi butuh barang apa-apa, panggil Ifa ya Mas.” Yogi Ifa yang melangkah kian menjauh menjauhi kamarnya kemudian menyibuk segelas susu coklat nan di letakkan Ifa. Yogi mencoket gelas itu, sira mesem dan sinkron meminumnya setakat habis.


Keesokan harinya, Yogi ditemani Dani berobat ke RST (Rumah Linu Tentara) nan tak jauh berpokok asrama mereka.
“Nomer antrian berapa aku, Dan?” Pertanyaan Yogi.
“Nomer 41 Gi, masih lama. Ini bau kencur setakat nomer antrian 23,” sebut Dani sambil memerlihatkan jeluang antrian Yogi. Mereka berdua duduk di pangsa tunggu depan poli umum.
“Lama amat ya Dan, aku udah laper nih. Ke kantin adv amat aja ayo Dan,” anjing hutan Yogi.
“Iya Gi, paling kembali ia masih lama di panggilnya,” Dani menandingi. Telepon seluler kepunyaan Yogi berdering.
“Sekilas ya Dan, aku terima teleponnya Renita habis.” Sekitar 6 menit Yogi menelpon kemudian mengakhiri pembicaraan dan menutup telepon. Wajah Yogi suntuk, Dani sudah bisa menebak barang apa nan terjadi.
“Suka-suka apa lagi sih Gi? Perasaan, engkau ama Renita berselisih mulu,” ujar Dani setelah Yogi selesai menelpon.
“Iya Dan, Renita minta di jemput momen ini juga.” Yogi menghela kekecewaan di wajahnya.
“Lalu kamu nggak bilang seandainya beliau lagi sakit dan sekarang kembali berobat?” Dani sewot.
“Udah Dan, tapi Renita bilang_ah paling cuman masuk angin biasa.”
“Tuh cewek, anak adam atau monster sih, perasaan tiap hari kerjanya nggak jauh-jauh dari dua prolog ini, kalau nggak marah ya ngambek, ah, aku deh yang rasanya pengen marah,” pembukaan Dani kesal melihat sahabatnya di perlakukan sekehendak hati sama Renita.
“Kenapa nggak kamu putusin aja sih Gi?”
“Hmm, aku kasihan Dan.”
“Kasihan?? Anda sebenarnya cinta ataupun nggak sih?” Cak bertanya Dani.
“Entahlah Dan, seperti apa sih pelalah itu? setahuku, jika aku suka sama cewek, aku tembak, jadian deh. Begitu suka-suka kebobrokan yaudah putus.”
“Yogi, Lejar lu Gi, cinta itu ya bukan begitu juga itu. Cinta itu, saat beliau berlawan doang cak semau desiran halus di lubuk hati terdalam, merasakan keberadaannya saja rasanya dag-dig-dug, apalagi saling bertatapan mata rasanya kamu ingin menyentuhnya tapi engkau kembali bisa salah tingkah dan segan saat menatap mata seseorang ia cintai. Ah payah dia Gi!”
“Tau ah palsu, aku sudah laper. Ka kafe RST lalu yuk Dan,” ajak Yogi. Dua pemuda itu lagi melangkah ke sebelah kantin melewati bangsal anak.
“Gi, itu sepertinya Dek Ifa?” angkat tangan Dani plong sendiri wanita berbalut jas dokter nan berjalan ke arah mereka.
“Iya, itu Ifa.” Yogi tak berhenti menatap Ifa nan berjalan semakin mendekat ke arahnya. Sira merasakan degub jantungnya berdetak enggak harmonis, ada segala apa ini, kenapa hatiku kaprikornus…
“Dek Ifa keren banget ya pakai jas putih,” decak kagum Dani. “Gi, ia tiap tahun serumah dengan Dek Ifa, nggak ada perasaan segala-segala apa gitu?” Dani melongok ke Yogi yang tertegun.
Yogi balas memandang Dani, “Hmm, ada perasaan Dan, ya sebatas perasaan mbok dengan adiknya. Apalagi Ifa sebatang kara, aku merasakan sesuatu akan itu, tapi aku pikir itu perhatian seorang kakak. Aku berharap sesudah aku dan Ifa bererak, dia mendapatkan seseorang yang lebih baik, Ifa itu anak yang baik, Dan.”
“Kalau gitu, ikhlaskan kalau Ifa sebanding aku Gi, hahahaa,” canda Dani.
“Ah, ogah sekiranya ama kamu Dan, hahaa,” balas Yogi.
“Hei, Mas Yogi, Mas Dani. Udah berpangkal tadi ya disini?” Tanya Ifa yang menghampiri mereka.
“Pula nunggu antrian Dek,” tutur Dani.
“Kamu praktek disini ya Fa?” Tanya Yogi.
“Iya mas, Ifa di bangsal anak asuh…,” Ifa tersenyum. Lain lama ada seorang ibu ke arah Ifa.
“Tabib, infus anak saya segala sudah boleh di lepas?” Ibu bertubuh jangkung itu menyoal pada Ifa.
“Tunggu Medikus Hery silam ya Bu, tapi saya mau lihat dulu keadaannya ya. Soalnya dokter Hery lagi di ruang operasi,” jawab Ifa.
“Mas Yogi, Mas Dani, Ifa sangat tinggal ya,” pamit Ifa kemudian pergi bersama ibu tadi ke bangsal anak. Lagi-sekali lagi Yogi menatap kepergian Ifa. Gambaran jejak kaki Ifa menari-nari dipikiran Yogi, semarak matanya mengambang tengah asik dalam batinnya namun Ifa tiba-tiba berbalik dan membuat Yogi terperangah.
“Mas Yogi, cepat sembuh ya!” teriak Ifa sembari mengacungkan jempolnya dan mesem yang menurut Yogi senyuman itu silam manis. Yogi terkesima…
EDISI Ideal cak semau di pusat Kisah Ngarai Hijau 2 👈

Harga Pokok Rp.43.000
Penulis : Bunga Rosania Indah
WA 081327499949

Dapat di proyek via permohonan SOPHEE/BUKALAPAK/TOKOPEDIA (lapak cv harfeey)/WA Penerbit 081904162092/WA BTP 081327499949

Buka s.d jam 18.00 wib senin-jumat 📩


BEST SELLER

Cerpen Kisah Lembah Hijau 1 Full

Source: https://steemit.com/novel/@mirzaa/kisah-lembah-hijau-2

Check Also

Cara Tanam Bunga Kenanga

Bunga kenanga nan telah melangkaui proses penyulingan dengan patra atsiri nan dihasilkannya yakni komoditi ekspor …