Proses Budidaya Tanaman Adenium Saat Panen Dan Pasca Panen

hostinginfive.com – Proses Budidaya Tanaman Adenium Saat Panen Dan Pasca Panen












I. PENDAHULUAN


A. Latar Pantat

Panen  ialah pekerjaan intiha dari budidaya tanaman (bersua dengan tanam), tapi merupakan semula dari jalan hidup  pasca panen, yaitu melakukan langkah untuk penyimpanan dan pemasaran

Pasca panen diartikan andai bermacam-macam tindakan atau perlakuan nan diberikan sreg hasil pertanian setelah penuaian sebatas produk berada di tangan konsumen. Istilah tersebut secara keilmuan lebih tepat disebut pasca produksi (postproduction)  nan dapat dibagi intern dua penggalan atau tahapan, yaitu pasca penuaian (postharvest) dan pengolahan (processing).  Penanganan pasca panen (postharvest)  majuh disebut juga sebagai perebusan primer (primary processing) merupakan istilah yang digunakan lakukan semua perlakuan berpunca mulai panen sampai produk  dapat dikonsumsi “segar” atau kerjakan persiapan pengolahan berikutnya. Kebanyakan perlakuan tersebut tidak mengingkari rencana performa atau penampakan, kedalamnya termaktub beraneka ragam aspek dari pemasaran dan distribusi. Perebusan (secondary processing) merupakan tindakan yang mengubah hasil pohon ke kondisi lain atau rencana lain dengan tujuan boleh resistan lebih lama (pengawetan), mencegah pergantian nan tidak dikehendaki atau  untuk  pengusahaan lain. Ke dalamnya termasuk pengolahan hutan dan pengolahan industri.

Penanganan pasca panen  bertujuan  agar hasil tumbuhan tersebut dalam kondisi baik dan sesuai/tepat buat dapat segera dikonsumsi alias untuk bahan lumrah pengolahan. Prosedur/perlakuan berpangkal penanganan pasca panen farik untuk berbagai rupa bidang kajian antara lain:

Penanganan pasca penuaian pada komoditas pertanian yang ditanam dalam skala luas seperti kopi, teh, tembakau dll., rajin disebut pengolahan primer, berniat menyiapkan  hasil tanaman lakukan industri pengolahan, perlakuannya bisa berupa pelayuan, penjemuran, pengupasan, pencucian, pembusukan dll.

Penanganan pasca panen sreg produksi benih bertujuan mendapatkan mani yang baik dan mempertahankan daya kecambah benih dan vigornya sampai  waktu reboisasi. Teknologi benih menutupi penyortiran biji pelir, pengutipan biji, pembersihan, penjemuran, sortasi, pengemasan, penyimpanan, dll.

Penanganan pasca pengetaman sreg barang tanaman alas yang berwujud angka-bijian (cereal/grains), kaspe-ubian dan kodian yang umumnya dapat tahan terka lama disimpan, berniat mempertahankan komoditas yang telah  dipanen dalam kondisi baik serta cukup dan tetap enak dikonsumsi. Penanganannya boleh berupa pemipilan/perontokan, pengupasan, pembersihan, pengeringan (curing  / drying), pengemasan, penyimpanan, preventif ofensif wereng dan penyakit, dll.

Penanganan pasca panen hasil hortikultura yang rata-rata dikonsumsi fit dan mudah “busuk” (perishable), bertujuan mempertahankan kondisi segarnya dan mencegah perubahan-perlintasan yang tidak dikehendaki selama penyimpanan, seperti mana  pertumbuhan taruk, pertumbuhan  akar,  layon  pitut,  buah  keriput, kacang alot, ubi  berwarna bau kencur (greening), bersisa menguning,  dll. Perlakuan dapat berupa : pembersihan, pencucian , penyatuan,  curing,  sortasi, grading, pengemasan, penyimpanan dingin, pelilinan, dll.


B. Maksud

Adapun tujuan terbit pembuatan makalah ini ialah agar kita dapat mengetahui tujuan berusul suatu penanganan panen dan pasca penen baik dalam komoditi tanaman perkebunan.







II. PEMBAHASAN


A. Panen

Panen  adalah pekerjaan akhir dari budidaya pohon (bercocok tanam), tapi merupakan mulanya dari pekerjaan  pasca panen, yaitu mengamalkan persiapan bikin penyimpanan dan pemasaran. Komoditas nan dipanen tersebut lebih jauh  akan melalui jalur-kempang tataniaga, sebatas berada di tangan pengguna. Janjang-pendek cakap jalur tataniaga tersebut menentukan tindakan panen dan pasca panen yang bagaimana yang moga dilakukan.

Pada dasarnya yang dituju puas  perlakuan panen yakni mengum pulkan komoditas dari tanah penanaman, pada taraf kedewasaan yang tepat, dengan kerusakan yang minimal, dilakuan secepat mana tahu dan dengan  biaya yang “adv minim”.

Bagi mendapatkan hasil panen nan baik, 2 peristiwa utama yang mesti diperhatikan plong pemanenan, yaitu :

1. Menentukan musim panen yang tepat

Ialah menentukan “kematangan”  nan   tepat  dan  saat panen yang sesuai, dapat dilakukan berbagai macam cara, yaitu :

● Cara optis / penampakan : misal dengan mengintai dandan kulit, bentuk buah, ukuran,



pertukaran bagian tanaman sebagai halnya daun mengering dan lain-lain

● Cara fisik : misal dengan perabaan, biji zakar lunak, umbi gigih, buah mudah dipetik   dan



bukan-lain.

● Cara komputasi, yaitu menghitung kehidupan tanaman sejak tanam atau umur buah dari menginjak



rente mekar.

● Cara ilmu pisah, yaitu dengan melakukan pengu kuran/analisis kandungan zat alias sintesis



nan ada internal komodit as, seperti: kadar sakarosa, ketentuan  tepung, kadar asam,  wangi-wangian dan

Baca :   Karangan Bunga Digunakan Pada Saat



lain-tidak.


2. Mengerjakan penanganan panen yang baik

Yaitu menekan kebinasaan nan  dapat terjadi. Privat suatu usaha pertanian (bisnis) cara-cara panen yang dipilih perlu diperhitungankan, disesu aikan dengan kecepatan atau waktu yang diperlukan (sesingkat mungkin) dan dengan biaya yang sedikit.

Untuk menetukan waktu panen mana maupun hubungan kaidah mana yang sesuai untuk menentukan kematangan suatu barang, kita harus mengarifi  proses pertumbuhan dan kedewasaan dari bagian tanaman yang akan dipanen.

Beberapa hal nan perlu diperhatikan pada penanganan panen :

● Lakukan persiapan panen dengan baik . Siapkan alat-alat nan dibutuhkan, medan pembendungan hasil dan arena-bekas panen, serta pemanen nan terampil dan tidak ceroboh.

● Pada pemanenan, hindari kerusa centung mekanis dengan melakukan panen secara membedabedakan. Panen mudahmudahan dilakukan dengan tangan atau menggunakan alat bantu yang sesuai. Misal tomat dan cabai dipetik dengan tangan,  bawang berma dicabut dan puas ubi belanda, tanah di sek itar pokok kayu dibongkar dengan menggunakan cangkul atau kored dan pangkal pohon di keluarkan dari dalam tanah. Hindari fasad/luka  pada pongkol detik pembongkaran tanah.

● Memperhatikan episode tanaman yang dipanen

● Gunakan tempat / medan panen y ang sesuai dan bersih, tidak menaruh  hasil penuaian di atas tanah  maupun di lantai dan usahakan tidak menumpuk hasil panen terlalu hierarki.

● Hindari tindakan kasar pada pe wadahan dan usahakan enggak ter lalu banyak melakukan  pemindahan ajang


B. PASCA Pengetaman

Penanganan pasca pengetaman yang baik akan menekan kehilangan (losses), baik privat kualitas maupun kuantitas, adalah mulai semenjak  penurunan kualitas sebatas barang tersebut lain layak pasar (titinada marketable) atau tak layak dikonsumsi. Untuk menekan kesuntukan tersebut terlazim diketahui :

● Aturan biologi hasil tanaman yang ditangani : struktur dan komposisi hasil pokok kayu.

● Asal-dasar fisiologi pasca panen : respirasi, transpirasi, produksi etilen.

● Teknologi penangan pasca panen yang sesuai.


1. Keuntungan melakukan penanganan pasca pengetaman yang baik

Dibanding dengan melakukan usaha  peningkatan produksi ,    melakukan penanganan  pasca penuaian nan baik mempunyai beberapa keuntungan   antara lain:

● Jumlah pangan yang bisa dikonsumsi kian banyak.

● Bertambah murah melakukan penanganan pasca panen (misal dengan penangan yang lever-



lever, pengemasan) dibanding eskalasi produksi  yang membu tuhkan input lampiran



(misal pestisida, pupuk, dll).

● Risiko kekosongan  kian kecil. Input yang diberikan pada peningkatan produksi bila gagal



bisa berarti gagal panen.  Pada penanganan pasca panen, bila gagal biasanya tak



menambah “kehilangan”.

● Menghemat energi. Energi nan digunak an lakukan memproduksi hasil yan g kemudian



“hilang” dapat dihemat.

● Perian yang diperlukan makin singkat (otoritas perlakuan  buat peningkatan produksi



baru terbantah 1  – 3 wulan kemudian, yakni saat panen; pengaruh penanganan pasca pengetaman



boleh terlihat 1 – 7 hari setelah perlakuan).

 ● Meningkatkan nutrisi. Melakukan penanganan pasca penuaian yang baik dapat mencegah



kehilangan vitamin, bermakna perbaikan nutrisi bagi masyarakat.



Mengurangi  sampah,  terutama di ii kabupaten –kota dan  ikut menuntaskan masalah  pencemaran



lingkungan.


2. Penanganan Pasca panen Hasil Perkebunan



Kegiatan penanganan pascapanen tanaman perkebunan didefinisikan sebagai suatu kegiatan penanganan dagangan hasil pertanaman, sejak pemanenan hingga siap menjadi bahan sahih ataupun produk intiha siap dikonsumsi, dimana didalamnya juga terjadwal distribusi dan pemasarannya. Cakupan teknologi pascapanen dibedakan menjadi dua kerubungan kegiatan osean, yaitu mula-mula:
penanganan primer
nan menutupi penanganan produk setakat menjadi produk setengah jadi atau barang siap olah, dimana perubahan/transformasi produk hanya terjadi secara fisik, padahal perubahan kimiawi biasanya tidak terjadi pada tahap ini. Kedua:
penanganan sekunder, yakni kegiatan lanjutan semenjak penanganan primer, dimana pada tahap ini akan terjadi perubahan bentuk fisik maupun atak kimiawi dari komoditas pengunci melalui suatu proses penggarapan. Lengkap penanganan primer tanaman perkebunan (misalnya kakao alias coklat) merupakan proses pengeringan dimana tujuan utamanya adalah menguapkan air sehingga diperoleh dagangan dengan takdir air kakao 6-7 % basis basah. Sedangkan semenjak sisi teknologinya, cara pengeringan kakao bisa dilakukan dengan penggabungan penjemuran (sun drying)
dan pengeringan dengan mesin (artificial drying)
untuk mendapatkan kadar air yang optimal dengan penampakan yang baik. Hasil akhir penanganan primer kakao merupakan kakao kering dengan kadar air optimal dan warna coklat kostum dan mengkilat. Penanganan sekunder kakao ialah pengolahan lebih jauh kakao kering menjadi produk yang lebih hilir. Pada proses ini nilai kakao hasil penggodokan primer digunakan sebagai bahan absah untuk pembuatan komposit kakao yang akhirnya menjadi produk olahan faktual tepung coklat, minyak coklat, meyses dan permen coklat serta produk olahan lainnya.

Baca :   Ciri Ciri Bibit Kurma Betina


3. Persoalan Penanganan Pascapanen Perkebunan




Beberapa problem lain yang erat kaitannya dengan teknologi pascapanen antara lain:

● kesenjangan dan keterbelakangan n domestik memproduksi bibit/benih menjuarai di dalam



negeri,

● disekuilibrium privat inovasi teknologi, baik dalam teknologi ekspansi peralatan



pascapanen alias kenyataan teknologi penanganan pascapanen itu sendiri,

● rendahnya pengertian awam mahajana dalam hal-hal yang berkaitan dengan



penanganan pascapanen, misalnya tentang susut pascapanen sehingga berakibat



kurangnya perhatian terhadap kebobrokan mutu,

● belum sempurnanya infrastruktur nan menunjang sistem aliran dan transportasi hasil



perkebunan rakyat,

● masih kecilnya margin yang diperoleh untuk menutupi biaya operasi penanganan



pascapanen, dan

● keterbatasan pengetahuan dan ketrampilan petani dan petugas penyuluh lapang akan



teknologi pascapanen.




Selain itu, ciri gerakan perkebunan sekali lagi berpengaruh terhadap pemilahan teknologi pascapanen serta kesesuaian varietas pohon perkebunan. Ciri-ciri usaha perkebunan adalah:

● biasanya tanaman bersifat tahunan sehingga diperlukan masa yang lama hingga



berproduksi, sementara peralatan pascapanen tidak dioperasikan sehingga pada saat



diperlukan mutakadim bukan optimal lagi,

● barang berwatak curah (bulk product) dan kerumahtanggaan kuantitas yang besar sehingga



diperlukan disain alat bongkar-muat dang angkut nan besar dan langgeng,

● produk berorientasi ekspor/pasar jagat rat sehingga akan bersemuka dengan sistem



pasar objektif sehingga diperlukan politik yang berpihak pada masyarakat perkebunan



(petani), dan

● diperlukan penyelenggaraan urat kayu nan besar dan mengikutsertakan orang tani/pekebun internal kuantitas osean,



maka itu karena itu kegiatan pascapanen dapat dilakukan sebagai manuver pedesaan.


4. Pentingnya Teknologi Penanganan Pascapanen




Teknologi pascapanen merupakan suatu perangkat yang digunakan dalam upaya peningkatan kualitas penanganan dengan tujuan mengurangi susut karena penjatuhan dur dagangan nan melibatkan proses ilmu faal normal dan atau respon terhadap kondisi yang tidak cocok akibat perubahan mileu secara fisik, ilmu pisah, dan biologis. Teknologi pascapanen diperlukan bagi memangkalkan atau bila mungkin menghilangkan susut pascapanen.

Dalam rangka peluasan produk hilir tanaman pertanaman yang berenergi siung, berinovasi teknologi, serta berorientasi pasar dan berbasis sumberdaya lokal, maka ekspansi penanganan pascapanen haruslah dipandang laksana satu bagian dari suatu sistem secara keseluruhan, dimana setiap mata rantai penanganan memiliki peran yang saling tercalit. Produk hasil perkebunan seperti pun produk pertanaman secara mahajana, setelah dipanen masih melakukan aktifitas metabolisme sehingga jikalau lain ditangani dengan segera akan mengakibatkan kehancuran secara tubuh dan kemik. Rasam mudah busuk (perishable) dari produk mengakibatkan tingginya susut pascapanen serta terbatasnya masa simpan setelah pemanenan sehingga serangga, hama dan penyakit akan memangkalkan mutu dagangan. Kondisi dagangan nan dipanen dipengaruhi oleh faktor pra panen misalnya kerumahtanggaan penyortiran keberagaman, sistem tanam dan teknik budidayanya. Faktor lingkungan dan adanya serangan hama dan penyakit juga amat ki akbar pengaruhnya terhadap produk afiat yang dipanen. Ketiga factor tersebut masih belum cukup cak bagi dapat menghasilkan produk dengan mutu prima, maka disinilah peran teknologi pascapanen menjadi amatlah penitng. Semua sub-sistem tersebut haruslah terintegrasi buat mendapatkan produk dengan kualitas prima dan stabil.

Kerumahtanggaan pengembangan sistem penanganan pascapanen hasil pertanian lagi perlu dukungan dari berbagai komponen yang tercalit dengan kegiatan agribisnis. Petani, kelompok tani, koperasi dan pedagang memegang peran yang amat sentral kerumahtanggaan pengembangan sistem operasi penanganan pascapanen yang akan menentukan tingkat kualitas dan kuantitas produk yang akan dipasarkan. Kegiatan petani akan berjalan dengan baik jika mendapat dukungan teknologi dari pabrik, mualamat standard mutu dan pasar dari konsumen, serta pelatihan teknologi, penyelenggaraan mutu dan pasar dari petugas penyuluh lapang. Disamping itu, dukungan dari rangka litbang dan perguruan tahapan, lembaga keuangan serta kebijakan pemerintah nan memayungi seluruh sistem yang melanglang. Keseluruhan sistem ini harus melanglang secara sinergi dan terpadu sehingga dapat teraih keberlanjutan operasi penanganan pascapanen untuk menghasilkan dagangan secara optimal.

Kegiatan penanganan pascapanen pokok kayu perkebunan didefinisikan sebagai suatu kegiatan penanganan barang hasil persawahan, sejak pemanenan hingga siap menjadi sasaran sah atau produk pengunci siap dikonsumsi, dimana didalamnya juga terdaftar sirkulasi dan pemasarannya. Cakupan teknologi pascapanen dibedakan menjadi dua kelompok kegiatan besar, adalah pertama: penanganan primer yang meliputi penanganan dagangan hingga menjadi produk segumpal makara maupun produk siap olah, dimana perubahan/metamorfosis barang namun terjadi secara bodi, sedangkan pergantian kimiawi biasanya lain terjadi pada tahap ini. Kedua: penanganan sekunder, yaitu kegiatan lanjutan dari penanganan primer, dimana pada tahap ini akan terjadi transisi bentuk fisik maupun komposisi kimiawi dari dagangan akhir melalui suatu proses pengolahan. Contoh penanganan primer tanaman persawahan (misalnya kakao atau coklat) adalah proses pengeringan dimana intensi utamanya adalah menguapkan air sehingga diperoleh produk dengan kodrat air kakao 6-7 % basis basah. Sementara itu berpunca arah teknologinya, cara pengeringan kakao dapat dilakukan dengan pemberkasan penjemuran (sun drying) dan pengeringan dengan mesin (artificial drying) bagi mendapatkan kadar air yang optimal dengan penampakan nan baik. Hasil akhir penanganan primer kakao merupakan kakao cengkar dengan suratan air optimal dan warna coklat seragam dan mengkilat. Penanganan sekunder kakao adalah penggodokan selanjutnya kakao cengkar menjadi produk nan bertambah estuari. Pada proses ini biji kakao hasil pengolahan primer digunakan sebagai objek konvensional untuk pembuatan massa kakao nan risikonya menjadi produk olahan berupa serdak coklat, minyak coklat, meyses dan permen coklat serta dagangan olahan lainnya.

Baca :   Klasifikasi Tanaman Bunga Sepatu


5. Pengembangan Teknologi Pascapanen




Diperlukan suatu pendekatan kerjasama multidisiplin untuk meningkatkan penanganan pascapanen bagi produk pertanian secara umum agar dapat menghasilkan dagangan dengan loklok yang kian baik. Pengetahuan tentang teknologi produksi buah misalnya, diperlukan terbit para ahli hortikultura, agronomi, ilmu petak, dan tukang lainnya. Demikian juga halnya dengan pengetahuan mengenai perawatan barang diperlukan dari para juru patologi, entomologi, ilmu mikrob, dan juru lainnya. Keahlian lain nan mungkin diperlukan merupakan ilmu faal, biokimia, fisika, teknik, guna-guna pangan, dan kesehatan.

Untuk keperluan pemasaran diperlukan juru ekonomi, guna-guna-mantra sosial, dan tataniaga. Kesemua kepiawaian tersebut terlampau diperlukan untuk menunjang keahlian keahlian utama yaitu keahlian dalam teknologi pascapanen dan keahlian fisiologi pascapanen. Kemampuan terbit cak regu akan kian baik lagi bila anggotanya enggak hanya beralsal dari landasan akademisi, tapi juga berpangkal kalangan praktisi alias pelaku bisnis, konsumen dan pihak-pihak bukan nan berkepentingan terhadap kegiatan produksi dan pemasaran produk hortikultura.

Teknologi pascapanen nan dikembangkan menjadi tepatguna hanya bila telah manjur layak secara teknis, ekonomi, dan sosial. Ini artinya satu teknologi pascapanen nan dikembangkan tidak hanya bisa diaplikasikan, tapi juga bermanfaat dan dipedulikan oleh seluruh bagian kerumahtanggaan rantai penanganan pascapanen. Teknologi pascapanen mempunyai cakupan yang habis luas, berusul segala jenis produk pertanian (buah, sayuran, bunga, biji, dsb.) sampai dagangan ternak, hasil perikanan dan kelautan. Kiat ini sekadar menggosipkan produk pertanian nan berperangai ringkih maupun sangat mudah rusak seperti buah, sayuran, dan bunga tikam.

.







III. PENUTUP


A. KESIMPULAN

Penuaian  adalah pencahanan akhir dari budidaya tanaman (bercocok tanam), tapi merupakan awal dari pekerjaan  pasca panen, yaitu mengerjakan anju kerjakan penyimpanan dan pemasaran

Untuk mendapatkan hasil panen yang baik, 2 hal terdahulu yang terbiasa diperhatikan lega pemanenan, yaitu :

1. Menentukan waktu panen nan tepat

2. Melakukan penanganan panen yang baik

Penanganan pasca penuaian yang baik akan menekan kekurangan (losses), baik dalam kualitas ataupun besaran, yaitu start dari  penerjunan kualitas sampai barang tersebut tidak layak pasar (titinada marketable) atau tidak cukup dikonsumsi. Untuk menekan kesuntukan tersebut teradat diketahui :

● Rasam biologi hasil pohon yang ditangani : struktur dan komposisi hasil pohon.

● Dasar-pangkal fisiologi pasca panen : asimilasi, transpirasi, produksi etilen.

● Teknologi penangan pasca panen yang sesuai.



Peristiwa-hal nan perlu diketahui dalam pasca penuaian antara lain bikin:

1. Keuntungan melakukan penanganan pasca panen nan baik

2. Penanganan Pascapanen Hasil Perkebunan

3. Permasalahan Penanganan Pascapanen Persawahan

4. Pentingnya Teknologi Penanganan Pascapanen

5. Ekspansi Teknologi Pascapanen


B. SARAN

Dalam kegiatan pengetaman maupun pasca panen sebaiknya memperhatikan hal-hal yang harus dilakukan guna mendapatkan hasil nan baik dan maksimal, sehingga mendapatkan keuntungan yang maksimal ibarat maksud terdahulu usaha perkebunan.

Proses Budidaya Tanaman Adenium Saat Panen Dan Pasca Panen

Source: https://kurniawan171091.blogspot.com/2015/04/panen-dan-pasca-panen-tanaman.html

Check Also

Yongki Komaladi Asli Dan Palsu

Yongki Komaladi Asli Dan Palsu Simple dan buat kita sempat takdirnya komoditas ini tuh Cosrx …