Taman Bunga Dataran Tinggi Dieng

Berasal Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Dieng saat syamsu berpunca

Dataran Tinggi Dieng
atau
Plato Dieng
yakni sebuah wilayah di anak kunci Jawa Perdua yang memiliki ciri geologi, sejarah, dan pertanian yang dinilai khas.
[oleh mungkin?]

Dataran ini diapit oleh jajaran perbukitan di arah paksina dan selatannya, yang berpokok terbit aktivitas vulkanik yang sebabat dan disebut Pegunungan Dieng. Pegunungan Dieng sendiri secara geografis berlambak di antara kompleks Puncak Rogojembangan di sebelah barat dan antiwirawan Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing di arah timurnya. Secara kasar dapat dikatakan bahwa daerah Dataran Tahapan Dieng menempati kawasan bermatra lebar (utara–selatan) 4-6 km dan strata (barat–timur) 11 km.[1]

Secara administrasi, Dataran tinggi Dieng produktif dalam wilayah Kecamatan Batur dan sebagian Kecamatan Pejawaran, Kabupaten Banjarnegara, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo, dan bagian selatan berusul Desa Pranten, Bawang, Kabupaten Mayit, dengan inti area wisata berada puas wilayah Desa Dieng Kulon (di Banjarnegara) dan Desa Dieng (“Dieng Wetan” di Wonosobo). Ketinggian dataran berpunya pada 1600 sampai 2100 mdpl dengan arah aliran permukaan ke barat daya,[1]
menuju ke lembah Sungai Serayu. Dengan hawa peledak berkisar 12–20 °C di siang hari dan 6–10 °C di malam hari, biarpun pada musim kemarau (Juli dan Agustus), guru peledak dapat mencapai 0 °C di pagi perian, iklim di Ceduk Strata Dieng teragendakan iklim subtropis dan memajukan embun beku yang makanya penduduk setempat disebut
bun upas
(“nyamur racun”) karena menyebabkan kerusakan sreg pokok kayu pertanian.

Meskipun cukup terpencil, Dataran Janjang Dieng telah lama menjadi kawasan pemukiman. Sejumlah bangunan peninggalan abad ke-8 masih bisa ditemukan, baik dalam situasi masih merembas ataupun sudah menjadi reruntuhan. Diperkirakan, bangunan-bangunan ini berasal dari masa Mataram Kuno awal.

Pertanian di Dieng menjadi sumber indra penglihatan pencaharian utama penghuni. Penghutanan sayur-mayur spesial pegunungan menjadi aktivitas utama, begitu juga kentang, wortel, rades, kol bunga, bit, dan berbagai kucai-bawangan. Dataran Tinggi Dieng adalah penggubah ubi belanda terluas di Indonesia. Tanaman klembak dan purwoceng yakni tanaman penyegar yang khas Dieng, karena cuma cocok bakal bertaruk di kawasan ini.

Etimologi

[sunting
|
sunting sumber]

Nama “Dieng” berasal dari kata bahasa Jawa Kuno:
di
yang berfaedah “tempat” dan
hyang
yang signifikan “pitarah”. Dengan demikian, “dihyang” berharga pegunungan kancah para leluhur maupun persemayaman para dewa.[2]

Sebuah epigraf menelanjangi bahwa di Legok Jenjang Dieng, orang Jawa Kuno telah menghuni wilayah tersebut dan digunakan buat beribadah. Disebutkan dalam Prasasti Jabal Wule tahun 861 Kristen seseorang diperintahkan menernakkan bangunan polos di daerah yang bernama Dihyang.

Iklim

[sunting
|
sunting sumber]

N baruh Tinggi Dieng memiliki iklim sedang sahaja panas kuku. Berdasarkan klasifikasi iklim Köppen, Dieng turut dalam golongan Cwb, dengan hari kemarau yang anyep dan musim hujan abu nan relatif bertambah pesam. Rata-rata guru tahunan di Dieng yakni 14,0 °C.[3]

Data iklim Dieng
Bulan Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sep Okt Nov Des Tahun
Rata-rata teratas °C (°F) 17.9
(64.2)
18.5
(65.3)
18.6
(65.5)
18.4
(65.1)
18.5
(65.3)
18.5
(65.3)
18.2
(64.8)
18.0
(64.4)
18.5
(65.3)
18.8
(65.8)
19.2
(66.6)
18.8
(65.8)
18.49
(65.28)
Rata-rata buletin °C (°F) 13.9
(57)
14.3
(57.7)
14.4
(57.9)
14.4
(57.9)
14.3
(57.7)
13.8
(56.8)
13.2
(55.8)
12.8
(55)
13.6
(56.5)
14.2
(57.6)
14.7
(58.5)
14.4
(57.9)
14
(57.19)
Rata-rata terendah °C (°F) 10.0
(50)
10.1
(50.2)
10.3
(50.5)
10.4
(50.7)
10.1
(50.2)
9.2
(48.6)
8.3
(46.9)
7.6
(45.7)
8.7
(47.7)
9.6
(49.3)
10.3
(50.5)
10.1
(50.2)
9.56
(49.21)
Presipitasi mm (inci) 370
(14.57)
430
(16.93)
434
(17.09)
249
(9.8)
153
(6.02)
83
(3.27)
53
(2.09)
35
(1.38)
57
(2.24)
170
(6.69)
230
(9.06)
388
(15.28)
2.652
(104,42)
Sumber:
[3]

Ilmu bumi

[sunting
|
sunting sumber]

Lihat sekali lagi: Pegunungan Dieng

Plong dasarnya Dataran Tinggi Dieng adalah kaldera yang dikelilingi oleh gunung-gunung di sekitarnya, antara lain Gunung Prahu (2.565 m) di sebelah timur laut kaldera, Argo Sikunir (2.463 m), Jabal Pakuwaja (2.595 m), Gunung Bismo (2.365 m) di jihat kidul kaldera, serta obsesi Ardi Butak-Dringo-Petarangan (di sisi barat laut). Di bawah permukaan kaldera terletak aktivitas vulkanik, sama dengan halnya Yellowstone ataupun N baruh Tinggi Tengger. Di sini terwalak banyak kawah (crater) dan belahan (vent) nan mengasingkan hasil aktivitas ilmu bumi dalam berbagai wujud: fumarola, solfatara,sumber gas (CO2
ataupun CO), dan mata air (semok maupun dingin), serta telaga vulkanik. Beberapa mulut gunung masih sangat aktif, seperti Sileri, Candradimuka, dan Sikidang, dijadikan objek tamasya alam.

Baca :   Harga Penginapan Bunga Indah Ciwidey

Kondisi ini memiliki potensi bahaya bikin penduduk yang meninggali kewedanan tersebut. Kasus anak bungsu yang merenggut ratusan nyawa yaitu bencana ledakan gas Kawah Sinila pada tahun 1979. Bukan hanya tabun berbisa dan erupsi, namun sekali lagi dapat dimungkinkan terjadi gempa bumi (vulkanik), erupsi lunau, persil longsor, dan air sebak. Selain kawah, terletak pula danau-danau vulkanik yang mandraguna air bersatu sulfur sehingga memiliki corak eksklusif kuning kehijauan.

Dari sisi ilmu hayat, aktivitas vulkanik di Dieng menarik karena di air-air sensual di dekat kawah ditemukan sejumlah varietas mikrob termofilik (“penyuka seksi”) yang berpotensi menyingkap umur awal di Bumi. Dieng pun memiliki sejumlah spesies tumbuhan singularis yang jarang dijumpai di tempat lain akibat kombinasi kondisi iklim dan geotermalnya yang unik.

Kawah-kepundan

[sunting
|
sunting sumber]

Kepundan Sikidang dilihat dari atas.

Kawah-kawah aktif di Plato Dieng menunjukkan adanya aktivitas vulkanik nan tinggi di bawah permukaan kapling. Selain semburan gas ataupun uap air, rajah aktivitas lainnya adalah salakan (erupsi) alias ngilu. Bencana sekunder nan dapat terjadi ialah banjir dan aliran lahar. Pemantauan aktivitas dilakukan oleh PVMBG melangkaui Pos Pengamatan Giri Api (PGA) Dieng di Desa Karangtengah. Berikut adalah kawah-kawah aktif nan ditemukan di Lembang Tataran Dieng.

Kawasan Utara

[sunting
|
sunting perigi]

Kumpulan kawah ini berada di sekitar Dolok Sipandu.

  • Sileri
  • Pagerkandang
  • Sipandu

Terdapat banyak kawah-kawah di sekeliling Sileri. Daerah ini sangat aktif dan sudah lalu dimanfaatkan sebagai penyemangat tenaga listrik panas bumi/geotermal (PLTP) oleh PT Geo Dipa Energi.

Negeri Selatan

[sunting
|
sunting sumber]

Aktivitas panas bumi di bagian daksina ditemukan di seputar Bukit Pangonan setakat mania Gunung Pakuwaja-Sikunir. Kompleks ini juga berada terdekat dengan kompleks percandian di Dieng.

  • Sibanteng
  • Sikendang, berada di got Situ Warna dan berpotensi gas beripuh
  • Sikidang
  • Upas-Luwuk
  • Pakuwaja
  • Pulosari

Selain kawah aktif juga terdapat mulut gunung-mulut gunung non-aktif atau mati. Pelan panas bumi di sekitar Sikidang juga sudah dimanfaatkan lakukan PLTP.

Negeri Barat Laut

[sunting
|
sunting sendang]

Agak jauh, berada di sebelah barat berasal kompleks Sileri dan di paksina pusat kecamatan Batur, terdapat kumpulan aktivitas vulkanik yang naik daun karena garitan letusan yang mematikan akibat emisi gas oksida karbon dengan konsentrasi tinggi. Aktivitas vulkanik di sini terkait dengan keikhlasan obsesi Gunung Butak-Petarangan nan sebelumnya merupakan vulkano stratovulkan.

  • Candradimuka
  • Jalatunda
  • Sidongkal
  • Siglagah
  • Sigluduk, berpotensi gas beracun
  • Sinila , berpotensi asap beracun
  • Timbang , berpotensi gas beracun
Galeri buram

[sunting
|
sunting sumur]

Danau vulkanik

[sunting
|
sunting sumber]

Telaga Dringo pada hari 1937

Danau atau telaga banyak terbentuk di Dataran Jenjang Dieng karena memang bagian tertentu negeri ini berawa-pandau serta akibat aktivitas geologi.

  • Telaga Warna
  • Situ Pengilon
  • Haud Cebong
  • Situ Merdada
  • Telaga Dringo
  • Haud Nila

Rekaman dan budaya

[sunting
|
sunting sumber]

Kepurbakalaan

[sunting
|
sunting mata air]

Kawasan Lembang Tinggi Dieng sudah lalu lama dikenal sebagai kunci temuan arkeologi; dengan ditemukannya beberapa candi dan lebihlebihan gedung historis non-pemujaan (petirtaan dan lubang drainase) serta arca. Garitan Hindia-Belanda menyebutkan terserah 117 candi/konstruksi zaman kuno di Dataran Tinggi Dieng, sahaja sekarang tinggal sembilan yang masih meleleh.[4]
Candi-candi di Dieng diberi stempel sesuai dengan stempel tokoh pewayangan Mahabharata dan berdasarkan estimasi arkeolog, bangunan-bangunan historis di Dieng dibangun di masa berkuasanya Kekaisaran Kalingga, yaitu pada abad ke-7 dan ke-8.[5]
Ini menjadikan percandian Dieng sebagai bangunan tertua di Jawa yang masih berdiri.[6]

Baca :   Cara Menghilangkan Mata Ikan Tanpa Operasi

Candi-candi ini bercorak religiositas Hindu dan tampaknya dibangun untuk pemujaan kepada Siwa dan
hyang
(leluhur yang didewakan sesudah meninggal).[7]
Dalam konsep Hinduisme, kuil atau candi adalah miniatur gunung asli kosmis, biarpun Schoppert melihat motif desain konstruksi tinggal abnormal tersapu dengan India.[8]
Dalam tinjauannya yang diterbitkan tahun 2011, Romain menyorongkan pendapat bahwa gaya candi Dieng boleh dikaitkan dengan gaya Dravida dan Pallava berbunga India selatan.[6]
Plong kondisi tahun 2020, hanya terletak sembilan candi yang masih berdiri, sisanya habis reruntuhan, fondasi, maupun lalu cap. Bisikan-batu reruntuhan candi dipakai oleh pemukim untuk fondasi bangunan, jalan, atau pembatas galangan.[4]

Gedung candi di Dieng bakir dalam gerombolan-gerombolan, semata-mata damping semuanya berada privat kawasan ngarai Dieng di sekitar sentral desa Dieng Kulon. Kelompok Arjuna ialah yang terbesar dan kondisinya paling baik, biarpun banyak reca yang telah dicuri maupun rusak. Sekarang menjadi objek pariwisata yang dikelola buat kepentingan pendapatan daerah/instansi. Termasuk dalam kerumunan ini adalah Candi Arjuna, Candi Semar, Candi Sembadra, Candi Srikandi, dan Candi Puntadewa; agak terpisah ke barat terdapat Candi Setyaki yang sudah dipugar sebagian. Kelompok Gatotkaca berada di tepi jalan penghubung utama ke sisi Candi Bima. Yang termasuk dalam kelompok ini adalah Candi Gatotkaca, Candi Nakula, Candi Sadewa, dan Candi Gareng. Hanya candi Gatotkaca yang masih baik kondisinya. Gerombolan Dwarawati produktif di Dusun Krajan, Desa Dieng Kulon, di dekat salah suatu sagur pendakian menuju Gunung Prahu. Saja suatu candi nan masih berdiri, yaitu Candi Dwarawati; candi-candi lainnya, begitu juga Candi Abyasa, Candi Pandu, dan Candi Margasari sudah menjadi reruntuhan. Candi Bima ialah candi tunggal, subur di sisi selatan kompleks Arjuna maupun Gatotkaca. Candi Parikesit (diperkirakan terletak di suku Gunung Sipandu) hanya diketahui dari catatan arkeologi Hindia-Belanda, demikian lagi Candi Prahu.

Dari sekian banyak gedung non-candi, bisa disebutkan Gangsiran Aswatama, suatu parit drainase kuno berupa korok pembuangan air untuk menjaga sebaiknya daerah percandian tidak tergenang air;[9]
petirtaan Tuk Bimo Lukar, sebagai arena peziarah untuk menyucikan diri sebelum melakukan sembah di percandian; Ondho Budho (ditemukan kembali Desember 2019, di kaki Bukit Sipandu), suatu susunan batu menyerupai tangga;[10]
dan arca Ganesha tanpa pemimpin yang ditemukan akhir Desember 2019 di Desa Dieng, Kabupaten Wonosobo.[11]
[12]
[13]
[14]

Upacara penyederhanaan surai gimbal di Dieng

Publik berbulu gimbal

[sunting
|
sunting sumber]

Penduduk beberapa dusun di Dieng juga diketahui memiliki kekhasan fenotipe, dengan rambut yang gimbal. Diduga adat surai ini diturunkan secara genetik. Setiap periode diadakan upacara pemendekan rambut gimbal untuk warga dengan ciri fisik demikian. Upacara ini sekarang menjadi keseleo satu objek wisata budaya.

Pertanian

[sunting
|
sunting mata air]

Penjual es carica singularis Wonosobo Dieng

Distrik Dieng yakni pembentuk sayuran n baruh panjang kerjakan distrik Jawa Tengah. Ubi benggala merupakan dagangan penting dan usaha taninya menjadi alat penglihatan pencaharian terdepan bagi penduduk daerah itu. Selain itu, wortel, kol, dan bawang-bawangan pula dihasilkan dari kewedanan ini. Selain sayuran, Dieng pula yaitu sentra penghasil keliki gunung (carica), kawul, biji pelir kemar, kupu-kupu gajah, dan purwaceng. Hanya akibat aktivitas pertanian yang pesat, kawasan hutan di puncak-puncak gunung-gemunung nyaris erat silam dikonversi menjadi petak pertanaman sayur.

Lapangan Geotermal

[sunting
|
sunting mata air]

Distrik Dieng masih aktif secara ilmu bumi dan banyak n kepunyaan sumber-sumur energi hidrotermal. Suka-suka tiga pelan hidrotermal utama, merupakan Pakuwaja, Sileri, dan Sikidang. Di ketiganya terdapat fumarola (kepundan uap) aktif, kolam lunau, dan lapangan uap. Netra air menggiurkan ditemukan, misalnya, di Bitingan, Siglagah, Pulosari, dan Jojogan, dengan temperatur rata-rata mulai pecah 25 °C (Jojogan) sampai 58 °C (Siglagah).[15]
Kawasan Sikidang dan Sileri telah start dimanfaatkan sebagai mata air energi hidrotermal.

Target Wisata

[sunting
|
sunting sendang]

Sejumlah peninggalan budaya dan gejala alam mutakadim dijadikan sebagai objek tamasya dan dikelola bersama maka itu dua kabupaten, yaitu Banjarnegara dan Wonosobo, serta Perhutani. Berikut beberapa bulan-bulanan wisata di Dieng.

Baca :   Cara Membuat Bibit Parfum Sendiri

  • Telaga: Danau Warna, sebuah telaga yang gegares memunculkan nuansa corak merah, hijau, dramatis, putih, dan mambang kuning, Telaga Pengilon, yang letaknya bersebelahan persis dengan Telaga Warna, uniknya warna air di telaga ini bening sebagaimana bukan tercampur welirang. Keunikan enggak yaitu yang mewatasi Telaga Rona dengan Telaga Pengilon hanyalah rerumputan yang terbentuk seperti rawa boncel. Telaga Merdada merupakan nan terbesar di antara telaga yang ada di Dataran Pangkat Dieng. Airnya yang enggak pernah surut dijadikan sebagai pengairan untuk kebun perladangan. Bahkan Telaga ini juga digunakan para pemancing lakukan merendam hobi atau pun wisatawan yang namun berkeliling dengan sumbuk kecil yang disewakan maka itu pemukim setempat.
  • Kawah: Sikidang, Sileri, Sinila (meletus dan mengeluarkan gas beracun pada tahun 1979 dengan korban 149 jiwa), Kawah Candradimuka.
  • Kompleks candi-candi Hindu nan dibangun puas abad ke-7 Masehi.
  • Gua: Gua Semar, Gua Kuda, Gua Sumur. Terletak di antara Tasik Rona dan Tasik Pengilon, sering digunakan umpama palagan olah spiritual.
  • Sumber Jalatunda
  • Dieng Volcanic Theater, teater buat mengawasi film mengenai kegunungapian di Dieng.
  • Museum Dieng Kailasa, menyimpan artefak dan memberikan informasi adapun umbul-umbul (ilmu bumi, flora-fauna), masyarakat Dieng (keseharian, pertanian, pembantu, kesenian) serta peninggalan ilmu purbakala berusul Dieng. Memiliki teater kerjakan melihat film (waktu ini mengenai arkeologi Dieng), panggung ternganga di atas atap museum, serta restoran.
  • Tuk Bima Lukar (Tuk
    = sendang), merupakan hulu Sungai Serayu dari Dieng ke Laut Cilacap. Tuk Bima Lukar sering digunakan untuk ritual keagamaan bikin umat Hindu. Ada juga yang mengatakan bahwa tuah berbunga Tuk Bima Lukar dipercaya sebagai obat langgeng cukup umur.[16]
  • Tali peranti potong surai gimbal

Lihat juga

[sunting
|
sunting sumber]

  • Kompleks Candi Dieng

Catatan kaki

[sunting
|
sunting sumber]

  1. ^


    a




    b




    Dan Miller, C.; et al. (1983).
    ERUPTIVE HISTORY OF THE DIENG MOUNTAINS REGION, CENTRAL JAVA, AND POTENTIAL HAZARDS FROM FUTURE ERUPTIONS
    (PDF). -: USDI – Geological Survey. hlm. 1–20.





  2. ^



    Central Java hand book
    (edisi ke-2). Indonesia: Provincial Government of Central Java. 1983.




  3. ^


    a




    b



    http://en.climate-data.org/location/623617/
  4. ^


    a




    b




    Putri, Anindya (18 Juni 2019). “Cerita Hilangnya 108 Candi di Provinsi Dieng”.
    cendawan.id
    . Diakses tanggal
    16 November
    2020
    .





  5. ^


    Coedès, George (1968). Walter F. Vella, ed.
    The Indianized States of Southeast Asia. trans.Susan Brown Cowing. University of Hawaii Press. ISBN 978-0-8248-0368-1.




  6. ^


    a




    b




    Romain, Julie (2011), “Indian Architecture in the ‘Sanskrit Cosmopolis’: The Temples of the Dieng Plateau”, dalam Manguin, Pierre-Yves; Benih; Wade, Geoff,
    Early Interactions Between South and Southeast Asia: Reflections on Cross-cultural Exchange,
    2, Singapore: Nalanda-Sriwijaya Centre. Institute of Southeast Asian Studies, hlm. 299–316, ISBN 9789814345101





  7. ^

    Michell, George, (1977) The Hindu Temple: An Introduction to its Meaning and Forms”. pp. 160-161. University of Chicago Press. ISBN 978-0-226-53230-1 /

  8. ^


    Schoppert, Peter (2012),
    Java Style, Editions Didier Millet, ISBN 9789814260602





  9. ^


    BPCB Jateng (20 Mei 2020). “Urutan Pembangunan Candi-Candi Di Dieng”.
    Indonesiana: Tribune Kebudayaan
    . Diakses tanggal
    16 November
    2020
    .





  10. ^


    Ariefana, Pebriansyah (24 Juli 2020). “Misteri Ondo Budho Dieng, Tangga Untuk Tamu Menuju Tempat Suci Dieng”.
    suarajawatengah.id
    . Diakses copot
    16 November
    2020
    .





  11. ^


    Ridlo, Muhamad (31 Des 2019). “Jejak Mataram Kuno privat Reka cipta Arca Ganesha Tanpa Kepala di Dieng”.
    Liputan6.com
    . Diakses tanggal
    16 Nov
    2020
    .





  12. ^


    Khairina (ed.) (07 Jan 2020). “Arca Ganesha Terbesar Diangkat dari Kawasan Dieng”.
    Kompas.com
    . Diakses tanggal
    16 Nov
    2020
    .





  13. ^


    Hari Susmayanti (ed.) (Senin, 30 Desember 2019). “Jalan Penemuan Arca Ganesha Terbesar di Dieng, Ditemukan Tanpa Kepala . Editor:”.
    TribunJogja.com
    . Diakses tanggal
    16 November
    2020
    .





  14. ^


    Hartono, Uje (05 Jan 2020). “Temuan Alai-belai Bata di Arca Ganesha Terbesar Dieng Ungkap Fakta Plonco”.
    detik.com
    . Diakses rontok
    16 November
    2020
    .





  15. ^

    Dieng Geothermal Field
    [
    pranala nonaktif permanen
    ]

    . Artikel di Geothermal Indonesia (blog). Rilis 7 Mei 2009

  16. ^

    Masruroh, Anna (09 Mar 2021). “Bekas Wisata Dieng Wonosobo di Jawa Paruh nan Perlu Dikunjungi”.
    gelartikar.com. Diakses rontok 02 April 2021.

Pranala asing

[sunting
|
sunting sumber]

  • (Indonesia)
    Denah Rupa Marcapada Kewedanan Dieng – BNPB
    [
    pranala nonaktif permanen
    ]



Taman Bunga Dataran Tinggi Dieng

Source: https://id.wikipedia.org/wiki/Dataran_Tinggi_Dieng

Check Also

Mengapa Bunga Deposito 3 Bulan Lebih Tinggi

Sahabat Peluk Teman ayo tambah lagi mantra dan wawasan kalian seputar dunia keuangan. Kali ini …